Karya seni kriya khas Nusantara dari Pulau Sumba tidak sekadar indah namun sarat makna. Itu karena selembar kainnya tercipta lewat proses panjang dan diikat budaya leluhur yang di-dewa-kan menurut aturan adat dan kepercayaan ‘Marapu’ orang Sumba.

Tenun ikat Sumba begitu kaya motif menyimbolkan ragam makna dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Selembar kain tenun Sumba penuh makna terkait relasi masyarakat dengan kehidupan mereka saat kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Itulah sebab mengapa banyak peminat kain tenun tradisional mancanegara mengagumi keindahan kain Sumba. Kain Sumba mulai menarik perhatian masyarakat Eropa sejak akhir abad ke-19 karena memiliki ragam hias dengan desain tegas, kaya warna, dan mudah dikenali.

Tenun ikat Sumba sendiri merupakan warisan budaya turun-temurun antargenerasi. Anda dapat menjumpainya langsung di masyarakat adat Sumba dimana menggambarkan status dan kelas sosial seseorang dalam simbol kuda, ayam, gong, dan lainnya.

Masyarakat Sumba awalnya mencipta tenun ikat sebagai satu perlengkapan penting dalam acara adat istiadat, seperti pernikahan ataupun upacara penobatan raja. Kini selain dikenakan dalam kehidupan sehari-hari, kain tenun ikat Sumba juga menjadi bagian dalam berbagai upacara adat seperti pemakaman adat merapu untuk membungkus jenazah. Bagi bangsawan, kain yang dibutuhkan sekitar 100 lembar, sedangkan untuk warga biasa, kain yang dibutuhkan 10-15 lembar.

Proses pembuatan kain Sumba memakan waktu cukup lama, tergantung kerumitan motifnya. Harga kain Sumba juga dibedakan menurut jenis pewarna yang digunakan. Untuk kain Sumba yang menggunakan pewarna sintetis, dikerjakan selama 5-6 bulan, harganya Rp 500.000-Rp 1 juta. Sementara kain Sumba yang menggunakan pewarna alami, dikerjakan selama 8 bulan-2 tahun, harganya jauh lebih mahal dari kain Sumba dengan pewarna sintetis. Salah satu kain Sumba yang memiliki tingkat kesulitan tinggi adalah kain Sumba yang motifnya mirip kain patola dari India.

Proses pembuatan kain Sumba melalui beberapa tahapan, yaitu pembuatan corak, pewarnaan, kemudian menenun. Umumnya, bahan pewarna alami diperolah dari tumbuhan yang ada di Sumba. Pewarnaan dilakukan rata-rata 3-4 kali dan maksimal 6 kali. Zat pewarna biru (kawaru) dibuat dari daun woru atau nila atau tarum (Indigo tinctoria). Adapun zat pewarna merah diperoleh dari akar kombu atau pohon mengkudu (Morinda citrifolia). Zat pewarna hitam diperoleh dari penggunaan lumpur.

Corak warna dan motif Tenun ikat berbeda-beda di setiap suku-suku di pulau Sumba yang dibuat dengan cara tenun manual. Umumnya corak kain Sumba dikelompokkan dalam tiga bagian, yakni: figuratif yang merupakan representasi dari bentuk manusia dan binatang, skematis yang menyerupai rangkaian bagan, cenderung geometris, serta bentuk corak pengaruh luar asing seperti salib, corak patola (India), dan naga (China).

Alat tenun tradisional untuk mencipta sehelai tenun ikat sumba terbuat dari kayu dan bambu. Beberapa bagian alat tersebut memiliki fungsinya sendiri-sendiri. Berikut rinciannya.

  • B’edo untuk penahan tulang belakang yang mengencangkan tenunan,
  • Beibmaba untuk mengatur kelonggaran kain,
  • Klooro b’endo untuk menghubungkan antara b’edo dan beibmaba,
  • Kwehek untuk untuk menahan kain yang telah di tenun,
  • Hab’elung untuk menggulung benang yang dimasukan dalam kain lalu dirapikan oleh malira,
  • Wunongo untuk membuat motif dalam kain,
  • Ombol untuk mengisi benang yang di tenun,
  • Rad’a untuk gandengan ombol sebagai penahan,
  • Talanda untuk tumpuan kaki,
  • B’eijongu untuk penahan,
  • Gloglabba untuk memintal, dan
  • Nokko untuk menekan kain.

Membuat kain tenun ikat awalnya merupakan kebiasaan wanita Sumba sejak ratusan tahun lalu. Orang Sumba saat melamar seorang pengantin wanita maka dari pihak laki-laki membawa kuda, sementara pihak wanita itu menyiapkan kain. Hingga kini, wanita Sumba membuat kerajinan ini untuk dipakai sendiri ataupun dijual ke orang lain. Tenun ikat juga telah menjadi bahan untuk aneka kerajinan, seperti tas, selendang, serta baju.

Karena manfaat ekonomi dari kain Sumba yang semakin menguat. Pembuatan kain Sumba tidak sekadar menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Sumba tetapi telah menjadi sumber ekonomi bagi masyarakatnya. Oleh karena itu, sekarang banyak pula kaum lelaki yang terlibat dalam pembuatan kain Sumba.

Saat ini, tenun khas Sumba juga telah di daftarkan UNESCO sebagai kekayaan Indonesia. Banyak kain Sumba menjadi koleksi sejumlah museum dan kolektor di luar negeri. Salah satunya di Museum Basel, Swiss yang memiliki koleksi 5.000 lembar kain tradisional Indonesia dan 2.000 di antaranya merupakan kain Sumba. Kain tenun Sumba, juga banyak dimiliki sejumlah kolektor dan museum di Belanda, Australia, hingga Amerika Serikat.

Di Pulau Sumba, sentra kain tenun ikat Sumba dapat dijumpai di sejumlah pesisir utara dan timur laut, seperti di Kanatang, Kambera, Rindi, Umalulu, dan Mangili. Sementara di Sumba Barat, terdapat di Kodi, yang tepatnya berada di Sumba bagian barat daya.