Gerak tariannya begitu gesit dan tangkas, itulah tari Bandrong ing Cilegon. Tarian ini sesuai namanya yang berasal dari ikan bandrong (ikan terbang) yang mampu melompat jauh dan gesit menyerang mangsanya. Tarian ini sangat diwarnai seni pencak silat bandrong, yakni salah satu aliran silat Banten yang berkembang di Cilegon. Tentunya usia pencak silat bandrong jauh lebih tua dibandingkan dengan tariannya yang sudah dimodernisasikan.

Layaknya pentas seni silat bandrong, tarian ini pun diiringi pelbagai alat musik kendang pencak silat yang khas dengan suara gendang dan terompetnya. Instrumen musiknya terdiri dari gendang induk (kendang indung), gendang anak (kendang anak), kulanter (gendang kecil), terompet (tarompet), goong (gong).

Keunikannya tampak dalam keserasian yang harus dimiliki antara pemusik dan penari dari gerakannya dengan irama gendang, terompet dan keseluruhan instrumennya. Penari maupun pesilat harus memahami setiap gerakan yang disesuaikan irama musik. Untuk memelajarinya diperlukan keseriusan dan ketekunan.

Tari Bandrong Ing Cilegon telah diresmikan pada 2012 oleh Pemerintah kota Cilegon bersama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon Banten, sebagai tarian penyambutan. Tarian ini diperkenalkan kepada masyarakat luas dalam upaya melestarikan warisan budaya Banten secara turun temurun, khususnya seni bandrong.

Aliran silat bandrong sendiri berkembang di Cilegon dari seorang Kiayi bernama Ki Asyraf (Ki Sarap). Ketika ia hendak menyelesaikan tugasnya sebagai senopati pada masa Sultan Maulana Hasanudin, pendiri Kesultanan Banten (1552-1570). Ki Sarap mengembangkan ilmu silat bandrong bersama sang kakak, Ki Ragil, yang merupakan teman satu perguruan yang dipimpin oleh Ki Beji, sebelum Kesultanan Banten berdiri. Konon dalam tugas kesehariannya ia sering memerhatikan dan mengagumi kegesitan dan ketangkasan ikan bandrong yang berbahaya sehingga nama ikan tersebut diambil menjadi nama aliran ilmu silatnya.

Jurus bandrong memiliki karakter tangkapan dengan jangkauan langkah dan serangan tangan yang panjang-panjang. Bantingan dengan menangkap kaki lawan kemudian dilemparkan adalah permainan yang sangat disukai. Banyak sekali aplikasi bantingan yang dimiliki bandrong. Sekilas terlihat sama dengan maen pukulan dari Betawi, yaitu cingkrik goning.

Kekhasan lain juga terdapat pada banyaknya lompatan dengan jangkauan pukulan yang panjang dan langkah kaki yang lebar. Berbeda dengan aliran pencal silat khas Sunda, silat bandrong sangat percaya diri membuka tangannya hingga 90 derajat dengan tubuhnya. Serangan tangan tidak hanya berupa kepalan tetapi juga tusukan dan totokan. Tidak ada tendangan tinggi tetapi diselingi kuda-kuda mengangkat satu kaki seperti posisi burung bangau.

Seiring berjalannya waktu, variasi jurus seni bandrong mengalami banyaknya pengaruh seni beladiri lainnya. Seperti silat Kwitang Betawi, silat Cimande, silat Merpati Putih, dan lainnya, hingga saat ini sudah ada kurang lebih 30 padepokan silat Bandrong yang tersebar di sekitar Bojonegara, Cilegon, dan Lampung. Perbedaannya hanya terletak pada variasi dan unsur silat yang memengaruhinya.

Jurus-jurus silat bandrong yang gesit dan tangkas itulah yang kemudian disatukan sebagai konsep dasar tari bandrong ing cilegon. Kemudian dasar tarian selamat datang ini dibagi ke empat adegan, dimana masing-masing adegannya memiliki makna yang berbeda supaya tidak terlihat monoton. Sedangkan, gerakan tari Bandrong disesuaikan dengan jenis-jenis musik mengirinya.