Ketika Anda menyambangi Nanga Bulik, ibu kota Kabupaten Lamandau di Provinsi Kalimantan Tengah maka kiranya perlu sempatkan waktu menengok tempat penangkaran rusa sambar yang berada di tengah kota, tepatnya di belakang Kantor Bupati Lamandau. Di sini setidaknya ada 30 ekor rusa di lokasi penangkaran yang dikelola oleh Pemerintah setempat melalui Dinas Pertanian dan Perikanan dengan berkordinasi dengan pihak BKSDA (Badan Konservasi Sumber Daya Alam). Ada petugas khusus di penangkaran yang selain merawat rusa untuk menyiapkan makanan maupun membersihkan tempat penangkaran juga dapat membantu memberikan informasi.

Rusa sambar atau dalam bahasa ilmiah (latin) disebut Cervus unicolor merupakan rusa terbesar di Indonesia. Ciri khas rusa sambar adalah tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan dan cenderung berwarna coklat ke abu-abuan atau ke merah-merahan, warna gelap sepanjang bagian atas tubuhnya. Rusa ini dapat tumbuh setinggi 102-160 cm dengan panjang tubuh sekira 150 cm. Berat maksimalnya hingga 549 kg pada usia 25 tahun. Berat rusa dewasa sekira 80-90 kg (betina) dan 90-125 kg (jantan). Rusa sambar menjadi rusa paling besar diantara empat jenis rusa yang hidup di Indonesia, yaitu: rusa bawean (Axis kuhlii), rusa timor (Cervus timorensis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kijang (Muntiacus muntjak).

Tanduk rusa sambar tergolong panjang bisa mencapai hingga tinggi 1 meter. Tanduk rusa hanya dimiliki oleh rusa jantan yang tumbuh pada umur sekitar 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan baru bercabang pada masa pertumbuhan tanduk berikutnya. Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah tumbuh, selanjutnya akan tumbuh kembali.

Rusa sambar merupakan binatang diurnal yang beraktivitas siang hari. Mereka hidup berkelompok dan mendiami daerah hutan tropis maupun subtropis hingga ketinggian mencapai 2000 m dpl. Rusa sambar umumnya berhabitat di hutan dan bergantung pada tanaman semak atau rerumputan. Hewan mamalia ini makanan utamanya rumput, daun, dan buah-buahan pokok hutan. Umumnya rusa sambar tidak memiliki musim kawin yang spesifik, biasanya berkisar antara bulan Juli sampai September. Rusa betina akan bunting selama 7-8 bulan. Anak akan bersembunyi selama 1-2 minggu, kemudian bergabung dengan kelompok.

Rusa sambar sendiri terdiri sedikitnya 13 subspesies dimana subspesies rusa sambar yang asli berasal dari Indonesia dan menjadi rusa terbesar di Indonesia adalah Cervus unicolor. Supspesies ini selain terdapat di Indonesia (Sumatera dan Kalimantan) terdapat juga memiliki daerah penyebaran yang sangat luas di Asia,  meliputi yaitu: Bangladesh, Bhutan, Brunei Darussalam, Kamboja, China, India, Indonesia (Sumatera), Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. 

Di Indonesia, rusa sambar, sebagaimana 3 jenis rusa lainnya yang dimiliki Indonesia termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Status konservasi rusa sambar oleh IUCN Redlist dikategorikan dalam “Vulnerable” (VU; Resiko Rendah) sejak tahun 1996 meskipun sebelumnya pernah mendapatkan status “Endangered” (EN; Terancam Punah) dikarenakan hewan ini memiliki nilai ekonomis tinggi. Tak hanya daging dan tanduknya, kulit rusa juga bernilai tinggi dan dimanfaatkan untuk industri penyamakan. Tingkat permintaan masyarakat cukup tinggi dari hasil perburuan liar rusa sambar.