Saat Anda menyambangi Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan sekaligus juga Ibu Kota Provinsi Kalimantan Utara maka sempatkan menengok Museum Kesultanan Bulungan (Bulongan) di Kecamatan Tanjung Palas Utara. Di tempat tersebut Anda dapat menelurusi jejak historis Kesultanan Bulungan dimana sempat mengalami masa kejayaan selama berabad lamanya pada 1771 hingga 1938.

Uniknya, kesultanan ini bisa tegak berdiri tegak tanpa menarik upeti dari penduduk di wilayahnya. Itu karena semasa 13 generasi raja-raja Kesultanan Bulungan memerintah dengan bergelimpangan kekayaan yang didapat dari hasil hutan, sungai dan laut perbatasan Kalimantan. Ketika itu Kesultanan Bulungan memiliki kekuasaan wilayah administratif meliputi Bulungan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, Tarakan, bahkan hingga Jawi (kini Sabah di Malaysia).

Kesultanan Bulungan berdiri pada sekitar abad ke-16 masehi di tepi Sungai Kayan. Sejarah Kesultanan Bulungan dimulai dengan raja pertama bernama Wira Amir gelar Amiril Mukminin (1731–1777), dan Raja Kesultanan Bulungan yang terakhir atau ke-13 adalah Datuk Tiras gelar Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1958). Wilayah Kesultanan Bulungan sendiri pada saat bergabung dengan Negara Republik Indonesia melalui Konvensi Malinau tanggal 7 Agustus 1949 dan sempat ditetapkan sebagai salah satu daerah istimewa.

Masa awal berdiri, Kesultanan Bulungan dipimpin oleh Datuk Mencang. Pada masa itu Datuk Mencang menikah dengan seorang wanita Dayak bernama Asung Luwan. Lalu setelah itu Datuk Mencang mencoba membangun tata kemasyarakatan (pemerintahan). Kedatangan Datuk Mencang ke Bulungan berawal dari tersesatnya ia saat melakukan pelayaran di lautan luas. Datuk Mencang tersesat dan tiba di perkampungan suku Dayak Kayan yang merupakan warga asli di lokasi tersebut. Datuk Mencang memimpin Kesultanan Bulungan sejak 1555-1594.

Kesultanan Bulungan diperkirakan baru mulai dikelola dengan sistematis pada abad 18 masehi. Sebab kala itu pemimpin Kesultanan Bulungan telah menyandang predikat resmi yaitu Sultan seperti lazimnya di aturan kerajaan. Saat itu tampuk kekuasaan Kesultanan Bulungan telah dipegang oleh Wira Amir yang berganti nama menjadi Aji Muhammad  setelah memeluk agama Islam tahun 1777. Pada masa itu juga Aji Muhammad digelari Sultan Amirul Mukminin.

Kunjungi dan dapatkan cerita menarik Kseultanan Bulungan dengan mengunjungi Museum Kesultanan Bulungan di Tanjung Palas Tengah, Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara. Museum ini buka setiap hari (kecuali Selasa) dan dibuka pukul 08.00 pagi hingga 15.00. Untuk dapat sampai ke Tanjung Palas Tengah dari Tanjung Selor, bisa memakai perahu dengan biaya 4 ribu dan perjalanannya kurang lebih sekitar 5 hingga 10 menit. Museum ini sangat dekat dengan kota Tanjung Selor tetapi untuk bisa sampai ke museum tersebut harus menyeberang sungai memakai perahu ataupun speedboat, sebab Kecamatan Tanjung Palas Tengah serta Kota Tanjung Selor dipisahkan Sungai Kayan, apabila Anda berada di Kota Tanjung Selor maka dapat melihat Kecamatan Tanjung Palas Tengah, begitupun sebaliknya.

Di tempat ini Anda dapat menelusuri berbagai koleksi sejarah kejayaan dan identitas masyarakat Bulungan. Meski tahun 1964 Bangunan Kesultanan Bulungan pernah terbakar namun masih banyak menyimpan sisa peninggalan dimasanya seperti benda-benda bersejarah peninggalan Kesultanan Bulungan seperti singasananya raja, tempat tidur, peralatan sehari-hari, sisilah raja, meja makan dan masih banyak yang lainnya. Ada pula foto-foto raja serta foto pertemuan para raja. Persis di depan museum ada juga 3 meriam yang dinamai Melati, Rindu, dan Dendam

Anda juga dapat mengunjungi makam keluarga Datu Adil yang berada di Desa Salimbatu. Lokasi ini hanya dapat dicapai lewat jalur sungai dengan waktu tempuh 30 menit. Konon ceritanya, Datu Adil adalah kerabat Kesultanan Bulungan yang terkenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana.