Ketika kendaraan yang Anda tumpangi menyusuri jalanan Pulau Sumba, salah satu pulau menawan dan alami di Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka hal yang bisa membuat Anda tertegun adalah betapa banyak kubur batu di pinggir jalan terpampang. Anda dapat melihatnya di sembarang tempat seperti di pinggir jalan, di depan halaman rumah warga, di depan kantor pemerintahan, di lapang terbuka, hingga di perbukitan atau di pesisir pantai.

Kubur batu merupakan warisan budaya megalitik di Tanah Sumba yang masih bertahan hingga sekarang bersama lestarinya agama adat Marapu yang kukuh dipegang warga setempat. Kubur batu atau batu kubur dalam istilah arkeologi disebut dolmen biasanya berbentuk bejana (kabang) maupun watu pawesi. Dalam budaya prasejarah, kubur batu merupakan budaya megalitik muda yang berkembang di Nusantara menjelang tarikh Masehi. Keberadaannya yang masih lestari di Pulau Sumba merupakan keunikan tersendiri karena mampu bertahan sejak masa prasejarah tanpa banyak mengalami perubahan.

Kubur batu berkembang di Pulau Sumba sekira 4.500 tahun lalu. Kubur batu di sini senantiasa dibuat besar dan megah, selain sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur juga sebagai cerminan status pemiliknya. Oleh karenanya, bagi masyarakat Sumba, kubur batu merupakan warisan leluhur yang terus dipelihara dan dipertahankan.

Kubur batu megalitik di Sumba umumnya berukuran 4 x 2 meter, beratnya sampai puluhan ton, disangga empat tiang batu, menaungi jenazah yang dikubur di tanah dalam posisi duduk meringkuk dilapis puluhan kain adat dan ditutup semen. Di atas kubur batu dibuat penji (tugu batu) dengan beragam ornamen hewan seperti kerbau, buaya, kura-kura, atau harimau yang melambangkan raja, ayam atau babi yang menunjukkan kepemimpinan, dan udang yang melambangkan kehidupan hanya berganti bentuk dunia.

Para peneliti budaya dan arkeolog meyakinkan bahwa kubur batu di Sumba merupakan satu-satunya pola hias yang mewakili tradisi pra-sejarah yang masih hidup (living megalithic culture). Tempat-tempat serupa seperti Toraja, Nias, Sabu, Flores, dan lainnya juga memiliki tradisi megalitik sezaman tetapi tidak ada yang disertai dihiasi arca dan relief indah seperti yang ditemukan di Sumba.

Pola Hias bangunan megalitik di Sumba umumnya berupa pahatan tiga dimensi berbentuk arca serta pahatan dua dimensi berbentuk relief. Pola hias tersebut sangat variatif dimana dipengaruhi zaman, kepercayaan religius dan status pemiliknya. Ragam relief tersebut pun kian kreatif dari masa ke masa berupa sulur, huruf ā€˜Sā€™, atau lingkaran memusat warisan zaman pra sejarah. Ada pula yang menggambarkan tokoh manusia, binatang, serta pola geometris dari masa yang lebih muda.

Apabila Anda bertanya pada tetua adat di banyak kampung adat di Sumba maka mereka akan menjelaskan tentang makna dari relief indah tersebut. Ada yang terkait sifat kehalusan dan kebijaksanaan seorang bangsawan yang biasanya dipahat dengan simbol hewan atau benda alam seperti bulan dan bintang. Ada juga sifat keagungan dan kebesarannya yang disimbolkan dengan benda-benda seperti tombak, parang, pedang, serta bermacam ragam perhiasan. Ada pula berupa hiasan hewan piaraan yang menjadi sumber inspirasi seperti kakatua, kerbau, anjing, kuda, ikan, kadal, dan buaya.

Kubur batu di Sumba merupakan kubur primer yang dipakai secara komunal oleh suami istri dan cucu-cucunya. Jenazah anak kandung tidak dapat dikuburkan bersama jenazah orangtuanya karena pandangan bahwa semasa hidup seorang anak yang telah dewasa dan menikah tidak boleh tinggal sekamar dengan orangtuanya sehingga setelah meninggal juga tidak boleh dikubur dalam kubur batu (odi) yang sama. Sementara jenazah cucu boleh disatukan  dengan kubur kakek-neneknya.

Budaya megalitik di Pulau Sumba bukan hanya terlihat jelas dari kubur batu melainkan juga diresapi secara nyata dari agama adat yang mereka anut, yaitu Marapu. Kepercayaan asli orang Sumba ini bertumpu pada pemujaan arwah nenek moyang serta meyakini roh-roh leluhur sebagai penghubung antara mereka yang masih hidup dan Sang Pencipta. Oleh karena itu, orang Sumba tidak pernah bisa jauh dari kerabat yang telah meninggal dan untuk menjaga kedekatan itu mereka mendirikan batu kubur tepat di depan rumahnya. Rumah adat dan batu kubur merupakan satu paket adat budaya Sumba yang tidak terpisahkan, rumah sebagai tempat tinggal yang masih hidup dan batu kubur sebagai tempat tinggal yang telah telah meninggal.

Ada beberapa jenis kubur batu yang dapat Anda temukan di Sumba, yaitu: pertama, watu pawa’I berupa kubur batu besar berbentuk meja batu (dolmen) yang ditopang beberapa batu bulat sebagai penyangga berjumlah 4 atau hingga lebih. Kubur batu ini adalah untuk para raja dan golongan bangsawan. Akan tetapi, jenis ini tidak selalu menjadi kuburan karena ada juga yang dibangun hanya sebagai monumen agung dan berfungsi sebagai kuburan biasanya dilengkapi batu kubur berukuran lebih kecil, persis di bawah watu pawai. Kedua, watu Kuoba adalah batu utuh yang dipahat membentuk peti dengan lempengan batu lebar sebagai penutup. Batu jenis ini ada yang berhias ada pula yang tidak. Pola reliefnya lebih sederhana dan terletak pada bagian peti batu. Jenis ini umumnya dipakai sebagai kuburan golongan menengah dan keluarganya. Ketiga, koro watu merupakan kubur batu dengan 6 lempengan batu yang disusun menjadi peti batu dimana bagian pertama sebagai dasar, kedua sebagai penutup dan empat bagian lainnya diletakkan pada masing-masing sisi. Jenis ini biasanya langsung diletakkan di atas tanah tanpa perlengkapan lainnya. Keempat, kurukata merupakan varian lain dari koro watu dengan dua lempeng penutup bagian atas yang ditumpuk jadi satu. Kelima, watumanyoba yaitu kubur batu sederhana dengan lempengan batu tanpa kaki yang langsung diletakkan di tanah. Bentuknya ada yang berupa lempengan segi empat, persegi panjang, bulat telur, dan lainnya. Jenis ini umumnya digunakan sebagai kuburan bagi pelayan sehingga sering kali ditemukan bersisian dengan kuburan para raja. Keenam, kaduwatu berupa kubur batu tegak lurus (penji) yang berhiaskan beragam ukiran dan merupakan pasangan batu kubur lain, terutama dari jenis Watu Pawa’i. Jenis ini biasanya berfungsi sebagai pernanda arah kepala atau kaki mayat sekaligus sebagai simbol bangsawan.

Selain bentuknya yang beragam, kubur batu di Sumba juga memiliki keunikan pada ukurannya yang sangat beraneka ragam. Ukuran batu kubur batu tersebut berceritra tentang banyak hal seperti status kebangsawanan dan kekayaan pemiliknya. Itu karena tidak semua orang Sumba mampu mendirikan batu kubur besar dimana pengerjaannya membutuhkan waktu, biaya dan tenaga. Dalam upacara kubur batu perlu menyertakan puluhan ekor hewan kurban, seperti ayam, anjing, babi, sapi, dan kerbau selama menjalankan ritual adat, mulai dari pemotongan batu kubur, penarikan batu kubur hingga pengerjaan batu kubur. Jumlah hewan kurban tersebut berkisar 50 ekor. Hal yang menarik juga adalah bila ukuran kubur batu tersebut besar dan berat sehingga butuh banyak orang menggotongnya agar tiba di kampung atau tujuan diamnya.

Untuk menemukan kubur batu di Sumba pastinya sangat mudah karena dapat ditemukan di setiap sudut tempat di berbagai belahan kampung. Akan tetapi, apabila Anda berhasrat menemukan yang terbesar di Pulau Sumba maka datanglah ke Kampung Wailolung, Desa Anajiaka, Kecamatan U.R. Nggay Barat. Jaraknya sekira 2 km dari Kota Waibakul. Kuburan tersebut adalah peristirahatan terakhir Umbu Tipuk Marissi yang merupakan Bupati Pertama Pulau Sumba.

Pilihan lain, coba datanglah ke Kampung Gallu Bakul di Desa Malinjak, Kecamatan Katiku Tana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah. Kubur batu di sana merupakan kubur batu terberat di Pulau Sumba dengan berat mencapai lebih dari 80 ton. Kubur batu tersebut disimpan sejak tahun 1983 sebagai tempat persemayam Umbu Sawola dan keluarganya.

Di Kampung Uma Bara, Desa Watu Hadangu, Kecamatan Umalulu, Sumba Timur, sekira 67 km dari Waingapu ada kubur batu megalitik di sejumlah kampung adat, seperti Kampung Raja Prailiu, sekira 3 km dari Waingapu. Kampung adat dengan kubur batu di sana cukup popular sebagai tempat tujuan wisata di Pulau Sumba.