Di bulan November ketika cuaca di banyak tempat di negeri ini tidaklah istimewa bagi seorang fotografer perjalanan seperti saya maka memutuskan ikut petualangan Explore Indonesia Jilid 2 yang diusung Airport.id bisa menjadi pelipur lara. Dengan semangat seorang pejalanan yang berlebih, saya pun melanjutkan penjelajahan ke Kota Gudeg seusai menengok kota kembarannya, yaitu Solo.

Selalu saya tempatkan Solo dan Yogyakarta sebagai kota yang senantiasa bersanding membawa adat Jawa ke haribaan budaya Nusantara. Serupa tapi tak sama keduanya akan selalu menyatu meski sejarah telah memisahkannya. Kini saya menatap Yogyakarta yang bermetamorfosis menjadi kota modern berbudaya majemuk dengan mempertahankan warna budaya aslinya.

Apa yang berkesan dalam perjalanan kali ini adalah bukan ketika saya menapaki tangga di Candi Prambanan, bukan pula melantai di lesehan Malioboro, menyusup jalan-jalan sempit di atas becak, menciduk butiran bakpia pathuk di lorong  Sosrowijayan, atau membenamkan diri di Pasar Beringhardjo. Apa yang istimewa adalah sejenak menjauh dari jantung pariwisata Jogja ke ceruk lainnya di kaki Gunung Merapi, yaitu Kaliurang.

Kaliurang menawarkan bukan hanya pemandangan hijau yang indah tetapi juga udara sejuk yang sempurna untuk rehat dari perkotaan dan enyah sejenak dari kesibukan pekerjaan. Kawasannya berada di selatan lereng Gunung Merapi, di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut sehingga udaranya sejuk cocok untuk bersantai. Kenyamanan inilah yang membuat saya betah sekaligus mengingatkan lukisan alam di buku gambar sewaktu kecil dahulu.

Selama di Kaliurang saya tidak luput menyambangi Ullen Sentalu. Sebuah museum swasta yang dikelola profesional demi melestarikan budaya Jawa yang terpusat pada empat kerajaan pecahan Mataram Islam yakni Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman. Apa yang paling menarik di sini adalah benda anggota keluarga keraton termasuk surat pribadi yang menunjukan sisi kehidupan cinta.

Untuk menuju Kaliurang menurut saya paling ideal adalah memanfaatkan pribadi maupun sewaan dengan waktu tempuh sekira 45 menit dari pusat Kota Yogyakarta. Menyusuri jalan lingkar (ring road) utara hingga bertemu perempatan Jalan Kaliurang, lalu susuri saja Jalan Kaliurang hingga berakhir di kawasan wisata Kaliurang mulai disesaki banyak penginapan.

Kaliurang terletak dataran tinggi dimana resor atau vila bertebaran dan warga sekitar menyebutnya wisma. Salah satu tempat menginap paling ideal di kawasan Kaliurang adalah The Cangkringan Jogja Villas & Spa. Akomodasi ini merupakan resor bergaya butik di kaki Gunung Merapi. Dibangun menggabungkan arsitektur Jawa dan modern. Hasilnya nuansa sangat Jawa begitu terasa terutama dari furniture elegan dan rerimbum pepohonan.

Beberapa tipe villa dan deluxe room di Cangkringan menghadirkan spot ideal untuk menatap megahnya Gunung Merapi di pagi hari dengan segumpalan awan menaunginya.  Lokasinya pun bersebelahan dengan Merapi Golf menyuguhkan rona menghijau dari sini. Kelengkapan fasiitas di kamarnya lebih dari cukup, termasuk sajian sarapan pagi dan layanan spa berkelas yang memuaskan. Saya akan merekomendasikan resor ini untuk pasangan yang berbulan madu, seorang petualang yang ingin menjajal Merapi, dan pastinya keluarga yang ingin menikmati kebersamaan di akhir pekan.

 

The Cangkringan Jogja Villas & Spa

Jl. Raya Merapi Golf, Desa Umbulharjo,
Cangkringan, Jogjakarta 55583

www.cangkringan.com

 

_20161202_142155