Tidak seperti Pulau Banda yang ramai orang dan turis lalu-lalang, Pulau Run tetaplah sepi  sebagai sebuah pulau nelayan dengan kebun pala bertengger di perbukitannya. Tidak ada yang menyangka bahwa pulau vulkanik yang panjangnya 3 km dan lebar kurang dari 1 km itu begitu krusial sejak awal abad ke-12 karena nilai pala yang tumbuh dari tanahnya. Dari pulau inilah sejarah hegemoni rempah-rempah Belanda atas negeri kita dapat Anda rangkai kisahnya.

Saat Nusantara menjadi surganya rempah-rempah dunia maka Kepulauan Banda adalah sari patinya. Di sinilah peta perdagangan dunia berubah dengan rempah-rempah sebagai penggerak. Itulah sebab dua kekuatan dunia saat itu, Inggris dan Belanda terlibat perang di kawasan ini demi memperebutkan Run, satu-satu pulau saat itu yang menghasilkan pala. Perang itu tidak melahirkan pemenang tetapi justru sebuah kesepakatan tentang pertukaran pulau di dua lokasi yang amat jauh sekali.

Adalah Perjanjian Breda yang menghentikan pertempuran antara Inggris dan Belanda di Kepulauan Banda. Pulau Rhun sebuah pulau vulkanik kecil yang dikuasai Inggris ditukar dengan Manhattan sebuah pulau dengan tanah rawa di ujung selatan Sungai Hudson, satu dari lima bagian daerah yang membentuk New York kini.

Pertempuran antara Inggris dan Belanda tidak lain karena berebut pulau penghasil pala, yaitu Run. Pala sendiri (dari pohon pala; Myristica fragans) merupakan jenis rempah yang memiliki khasiat pengobatan. Pohon pala tumbuh tinggi menjulang dihiasi bunga mekar menyerupai lonceng dengan buah berdaging tebal.

Sebenarnya bukan Inggris atau Belanda yang mengawali hegemoni perdagangan rempah-rempah di Kepulauan Banda, melainkan bangsa Portugis-lah yang pertama. Mereka bahkan berhasil membangun benteng  pertahanan (Benteng Nassau-Belgica) di Pulau Banda namun bosan karena serangan rutin yang dilancarkan penduduk setempat hingga benteng yang belum selesai itu pun ditinggalkan.

Barulah pada 1616, Nathaniel Courthope dari Inggris melakukan perjalanan menuju pulau Run, satu-satunya pulau yang berada di luar kekuasaan Belanda. Courthtope berhasil menjalin hubungan dengan penduduk pribumi. Mereka bahkan bekerjasama melawan upaya Belanda memonopoli rempah-rempah. Penduduk pribumi yang percaya pada Courthtope memberi imbalan Pulau Run kepada Kerajaan Inggris. Selain itu, penduduk pribumi juga hanya menjual pala dan bunga lawang kepada Inggris.

Empat tahun lamanya Courthtope memimpin di Pulau Run dan berhasil mensejahterakan penduduk pribumi. Mereka tidak lagi kesulitan mendapatkan sumber makanan dan air untuk mencukupi kebutuhan. Tidak lama setelah Belanda datang dan mulai mendominasi di Kepulauan Banda, penduduk di Pulau Banda Besar melakukan perlawanan dimana Courthtope datang memberi dukungan tetapi rupanya di tengah perjalanan tewas dalam pertempuran dengan armada Belanda.

Setelah kematian Courthtope, seluruh pulau di kepulauan Banda akhirnya dikuasai oleh Belanda, termasuk Pulau Run. Ketidakmampuan penduduk pribumi menguatkan pertahanan membuat Run jatuh ke tangan Belanda. Tidak lama Inggris kembali menguasai pulau ini dan pertempuran pun kembali terjadi namun selalu gagal dikuasai Belanda. Akhirnya kedua belah pihak sepakat menyelesaikannya dengan perjanjian pertukaran daerah kekuasaan dimana Pulau Run diserahkan ke tangan Belanda, sedangkan Inggris diberi Pulau Manhattan oleh Belanda di Amerika. Berbeda dengan Run, Manhattan justru berikutnya berkembang menjadi pusat perdagangan kecil bahkan menjadi sebuah kota terbesar di Amerika Utara yang bernama New York.