Pelabuhan besar Kota Kaimana sehari-harinya disibukkan dengan kapal laut yang datang dan pergi. Hiruk-pikuk akan tenggelam bersamaan dengan munculnya senja yang spektakuler. Tepat di depan pelabuhan tersebut, sebuah masjid berdiri kokoh menggoda para wisatawan untuk mengabadikan gambarnya melalui kamera. Masjid Agung Baiturrahim Kaimana memang ikonik, terlebih ketika bersanding dilatari panorama Matahari terbenam di kota ini.

Delapan pilar berpucuk warna emas mengelilingi satu kubah pusat dengan balutan yang juga berwarna emas. Tubuh masjid didominasi warna putih dan dihiasi pemandangan laut serta rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Masjid sudah dipugar lima kali sehingga masih terlihat apik hingga saat ini.

Ini adalah salah satu dari sedikit sisa peninggalan Kerajaan Islam Sran Eman Muun yang pernah berjaya di Pulau Adi, Laut Arafuru. Peninggalan lain seperti istana dan benteng telah dihancurkan oleh bangsa barat pada perang berkepanjangan. Anda bisa melihat masjid ini di Kampung Sran, Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat.

Raja Sran Kaimana VIII identik dengan Islam sehingga dibangun lah masjid megah sebagai simbol kerajaan. Raja menjadi imam sekaligus menjadi khatib pada saat awal perkembangan Islam. Kemudian saat perpindahan pusat kerajaan pada abad ke-19, raja mendatangankan warga keturunan Arab dari Maluku untuk menjadi imam raja di Kaimana. Kebijakan ini diambil karena ketika itu belum ada satu pun warga yang siap menjadi imam.

Meskipun kerajaan Islam pernah berkembang di Kaimana, agama Kristen yang pernah dibawa Belanda pada abad ke-20 tetap mendominasi. Walaupun demikian masyarakat Kaimana sudah terbiasa hidup dalam lingkungan bahkan keluarga dengan keyakinan yang berbeda, sehingga muncul lah istilah agama keluarga. Perbedaan yang sudah tumbuh sekian lama di Kaimana justru melahirkan toleransi antar warga penganut keyakinan yang berbeda.

Kebersamaan bisa dilihat pada hari besar keagamaan atau acara agama tertentu. Panitia yang terlibat mencakup berbagai kalangan masyarakat walaupun agamanya berbeda sekalipun. Baik warga maupun pemimpin di Kaimana memiliki komunikasi yang sangat baik melalui forum komunikasi yang dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Kaimana, ataupun dalam komunikasi informal sehari-hari.

Kegiatan

Budaya Islam di Kaimana masih cukup unik ketika Idul Fitri tiba. Ada ajang silaturahmi menyinggahi rumah tokoh masyrakat lengkap dengan sajian makanan dan minuman di setiap rumah, namun uniknya, Anda bisa melihat para pemuda memeriahkan hari raya dengan menari di tengah jalan diiringi lantunan berkeliling Kota Kaimana dari Kampung Sran, Kampung Bumi Surmai, Kampung Anda Air hingga ke Kampung Kaki Air. Kegiatan ini berpusat di Masjid Agung Baiturrahim. Ratusan anggota remaja masjid, anak-anak kecil hingga dewasa akan berkumpul dan mempersiapkan alat musik berupa rebana sebagai iring-iringan rombongan.shalawat dan musik hadrat

Silaturahmi hadrat dilakukan dua hari, biasanya berkeliling Kota Kaimana dari Kampung Sran, Kampung Bumi Surmai, Kampung Anda Air hingga ke Kampung Kaki Air. Kegiatan ini berpusat di Masjid Agung Baiturrahim. Ratusan anggota remaja masjid, anak-anak kecil hingga dewasa akan berkumpul dan mempersiapkan alat musik berupa rebana sebagai iring-iringan rombongan.

Transportasi

Masjid terletak tidak jauh dari Pelabuhan Kota Kaimana. Anda bisa mencapai pelabuhan dengan Kapal Penumpang Ciremai yang kapasitas 1.500 orang. Kapal berlayar dari Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Surabaya), Soekarno Hatta (Makassar), Baubau (Sulawesi Tenggara), Ambon, Tual, Banda (Maluku), serta dari Fak-Fak dua kali dalam sebulan.

Kuliner

Saat peryaan Idul Fitri, masyarakat Kaimana bersuka cita menyajikan ragam kuliner khas di rumah masing-masing. Mereka biasanya memiliki kue lontar yang mirip pie susu, terbuatnya dari susu dan telur. Kue ini diadaptasi dari kuliner Belanda di masa lalu dan memiliki tekstur yang legit saat menyentuh lidah.

Kue lontar di desa-desa kecil diolah menggunakan cara yang masih sangat tradisional, yakni menggunakan drum, seng atau alumunium. Proses pembuatannya melewati pemanasan di atas tungku berbahan bakar sabut kelapa sebagai pengganti oven. Kue lontar semakin nikmat disantap berdampingan dengan teh halia atau teh jahe

Akomodasi

Berikut ini beberapa hotel yang bisa dijadikan opsi untuk Anda menginap di Kaimana. 

Bicari Hotel

Jalan Yos Sudarso, Kaimana

Telepon: 0957-21373

Diana Hotel

Jalan Trikora 18, Kaimana

Telepon: 0957-21888

Kaimana Beach Hotel

Jalan Utarum Kroy, Kaimana

Telepon: 0957-21243

Nirmala Hotel

Jalan Brawijaya 1, Kaimana

Telepon: 0957-21230