Kepulauan Banda pada masanya adalah pusat rempah-rempah dunia. Hal ini dikarenakan keunggulannya sebagai penghasil lada dan pala serta posisinya strategis di tengah Kepulauan Maluku. Pada masa itu, dari sinilah perdagangan rempah-rempah bermula yang merupakan komoditas dagang bernilai mahal dan sangat dibutuhkan di Eropa. Beberapa bangsa Eropa pun berdatangan dan berebut kekuasaan di Kepulauan Banda hingga yang berhasil mendominasi penuh pada akhirnya adalah Belanda.

Abad ke-17, Belanda lewat kongsi dagang Hindia Belanda atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) mendirikan beberapa benteng yang tersebar di Kepulauan Banda. Tujuannya tidak lain adalah sebagia gudang rempah-rempah yang kemudian secara pasti berkembang menjadi gudang senjata, penjara dan barak militer.

Salah satu benteng yang paling penting perannya di Kepulauan Banda adalah Benteng Belgica. Benteng pertahanan ini awalnya dibangun oleh Portugis kemudian diperbesar pada masa Hindia Belanda tahun 1611 oleh Gubernur Jenderal Pieter Both. Posisinya bertengger di bukit tertinggi di Banda Neira dan menjadi benteng yang terbesar dan terluas yang pernah dibangun oleh Belanda di Indonesia. 

Benteng Belgica berdiri sekira 30 meter dari permukaan laut dan tepat menghadap pelabuhan sekaligus Pulau Gunung Api dan Pulau Banda Besar. Di atas perbukitan Tabaleku di sebelah barat daya Pulau Naira inilah VOC mengontrol lalu-lintas kapal di Kepulauan Banda.

Bangunannya berbentuk persegi lima namun apabila dilihat dari semua penjuru hanya akan terlihat 4 buah sisi tetapi bila dilihat dari atas nampak seperti bintang persegi. Konstruksi benteng terdiri atas dua lapis bangunan dan untuk memasukinya (dulu) harus menggunakan tangga hidrolik. Di bagian tengah benteng terdapat ruang terbuka untuk tahanan. Ada pula dua buah sumur yang menghubungkan benteng dengan pelabuhan dan Benteng Nassau yang berada di tepi pantai.

Benteng Belgica mengalami beberapa kali pembangunan. Diperbesar tahun 1622 oleh J.P. Coen. Kemudian, tahun 1667 diperbesar lagi oleh Komisaris Cornelis Speelman. Tahun 1911 Gubernur Jenderal Craft van Limburg Stirum memerintahkan agar benteng ini dipugar. Benteng Belgica menjadi markas militer Belanda hingga tahun 1860. 

Seperti benteng-benteng lainnya yang dibangun Belanda di berbagai lokasi di Nusantara, Benteng Belgica berhasil mengambil peran penting sebagai gudang senjata, penjara dan barak militer. Benteng Belgica mengawali hegemoni Belanda di Nusantara sebelum berikutnya pusat penerintahan dipindahkan ke Batavia di Pulau Jawa.