Seni di Toraja memainkan peran penting dalam struktur sosial masyarakatnya. Karena kekuatan emosi dari benda, khususnya benda-benda seni,  mewujudkan hirarki sosial. Peringkat status merupakan pusat dari struktur sosial dan ini dicerminkan dalam dua hal, yakni rumah adat tongkonan dan tau-tau. 

Tau-tau merupakan replika atau tiruan dari orang Toraja yang sudah meninggal. Biasanya boneka kayu ini diletakkan sekitar tempat jenasah yang dimakamkan. Tau-tau merupakan elemen unik dan artistik dari identitas budaya di Toraja karena diukir menyerupai orang yang meninggal. Melalui patung inilah interaksi antara orang hidup dengan orang mati akan langgeng karena tau-tau merupakan persekutuan diantara keduanya.

Tau-tau berasal dari kata tauyang berarti orangatau manusia,dan disertai pengulangan kata tauyang bermakna menyerupai. Secara harafiah tau-tau berarti orang-orangan. Tau-tau bukan melambangkan badan atau raga almarhum melainkan simbol roh atau spirit sang almarhum yang tidak ikut mati tetapi melanjutkan kehidupan lain di alam berikutnya sesudah kematian (Poyo).

Dalam kepercayaan orang Toraja (Aluk Todolo) bahwa seseorang yang telah meninggal dunia akan menuju ke suatu tempat berkumpulnya semua roh (Poyo). Akan tetapi, tidak semua roh akan sampai di Poyo kecuali yang menjalankan upacara adat sesuai status sosialnya semasa hidupnya. Nah, tau-tau yang dibuat dalam prosesi upacara adat harus menggunakan bahan yang sesuai dengan status sosial orang yang meninggal. Apabila tidak maka roh orang tersebut tidak sampai di dunia arwah atau rohnya akan tersesat. Oleh karena itu, kesempurnaan upacara adat Toraja dan penyediaan tau-tau sangatlah penting dan harus di jalankan sesuai ketentuan karena sangat berpengaruh bagi roh orang yang meninggal.

Boneka tau-tau dibuat dari bilah bambu (strata status sosial terendah), kayu cendana-randu (strata status sosial menengah), dan kayu nangka (strata sosial paling tinggi/bangsawan). Khusus bagian bola mata dibuat menggunakan tulang atau tanduk kerbau. Pembuatan tau-tau merupakan tanggung jawab keluarga almarhum dan dibuat hanya bagi mereka yang memiliki golongan ningrat sehingga keberadaannya penting dalam menyimbolkan status aristokrat. 

Tau-tau tidak sembarangan dibuat karena harus melewati setiap tahap pengukiran yang didasari oleh ritual religi, termasuk saat penebangan pohon. Saat membuat tau-tau, perajin pun wajib bekerja dekat dengan mayat. Ketika proses pemakaman dimulai, boneka ini akan dibalut dengan pakaian. Biasanya tau-tau laki-laki dilengkapi sarung dan yang wanita mengenakan kebaya. Tau-tau juga dilengkapi hiasan kepala, sebuah tas yang diisi dengan perak dan perabot yang terbuat dari bambu, perhiasan emas, pisau yang disakralkan, atau semua benda pusaka yang berkaitan dengan kaum bangsawan dan dewa.

Saat ritual selesai, tau-tau ditempatkan di bukit-bukit sehingga secara visual memperlihatkan bagaimana masyarakat yang masih hidup tetap berhubungan dengan mereka yang sudah pergi ke alam baka. Orang Toraja percaya bahwa jiwa dari orang yang meninggal tersebut tetap hidup di dalam tubuh tau-tau. 

Di Lemo, Toraja masyarakat dari keturunan keluarga yang membuat tau-tau memberikan keamanan ketat pada balkon di tebing-tebing agar benda tersebut tidak dicuri. Balkon diberi jendela yang dikunci pada malam hari atau ketika tidak ada orang-orang di sekitarnya.