Pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat jual beli atau tukar informasi. Lebih dari pada itu, pasar bahkan memiliki peran lain yang juga penting, misalnya sebagai wajah kebudayaan dan jejak peradaban masyarakat di sekitarnya. 

Pasar Bolu dan Pasar Makale adalah dua pasar di Tana Torajayang mencerminkan budaya dan sekaligus tampilan peradaban masyarakat Toraja. Kedua pasar ini merupakan dua pasar terbesar di Kabupaten Tana Toraja. Sebelum mengenal lebih jauh tentang kedua pasar tersebut, baiknya Anda mengenal dulu sejarah, peran, dan mekanisme pasar tradisional dalam kehidupan masyarakat Toraja.

Sejarah, Peran, dan Mekanisme Pasar di Toraja: Masa Lampau dan Masa Kini 

Masa Lampau

Di masa lampau, budak, senjata api, dan kopi adalah beberapa komoditas utama dalam sistem perdagangan Toraja. Disebut-sebut juga bahwa sejak abad ke-17, Toraja sudah menjadi bagian dari sistem perdagangan global dengan memperjualbelikan budak yang dikirim hingga ke Siam. Aktifitas perdagangan semakin meningkat pada pertengahan abad ke-19, dimana kopi dan senjata api turut menjadi komoditas perdagangannya. Kopi dan budak dikirim keluar Toraja, sementara senjata api dan kain dibawa masuk ke Toraja. Lokasi geografis Toraja yang berada di pegunungan dan sulit diakses rupanya tidak menjadi penghalang kegiataan perdagangan global tersebut. 

Menurut Bigalke (1981) sistem hari pasar bergilir sudah dipraktekkan sejak abad ke-19. Pasar-pasar besar di bagian Utara Toraja pada masa itu terpusat di Pasar Kalambe (sekarang dikenal dengan Pasar Bolu) dan Pasar Rantepao (sekarang dikenal dengan Pasar Pagi Rantepao). Pasar-pasar tersebut hanya buka sekali dalam enam hari, dan buka secara bergiliran. Saat hari pasar berlangsung maka dapat mengundang pengunjung sekira 1500hingga 5000 orang. Sedangkan untuk pasar yang kecil, pengunjung adalah 600 hingga800 pengunjung. Masih menurut Bigalke (1981), pasar-pasar ini turut berperan dalam mengintegrasikan kelompok etnis Tana Toraja yang terpecah-pecah dan berperang satu sama lain. 

Pada awal abad ke-20, saat pemerintahan kolonial menyentuh Toraja, penjualan budak dan senjata api terhenti. Komoditi pasar adalah terdiri dari hasil bumi (kopi, padi, buah, dan sayur-sayuran), produk-produk konsumtif (tembakau, gambir, sirih, dan pinang), dan produk-produk lain seperti rotan, tembikar, kerajinan bambu, kain, dan lain sebagainya. 

Masa Kini

Pasar tradisional Toraja di masa kini telah mengalami perubahan menyangkut sistem regulasi. Pasar-pasar tradisional Toraja sekarang dikelola oleh pemerintahan daerah dan dibagi dalam 5 kelompok. Dari 5 kelompok ini, 4 kelompok besar dikelola langsung oleh pemerintah, sementara satu kelompok yang terdiri dari pasar-pasar kecil dikelola langsung oleh desa-desa setempat. 

Berikut adalah pembagian atau kelas-kelas dari 4 kelompok besar pasar tradisional tersebut di atas. 

Pasar Ternak, yaitu Pasar Bolu di Rantepao dan Pasar Makale di Makale. Kelompok pasar kedua adalah Pasar Umum Kelas I, terdiri dari dua pasar terbesar di Toraja, yaitu Pasar Bolu dan Pasar Makale. Komoditas utama kedua pasar ini berturut-turut adalah hewan ternak kerbau dan babi. Sebagaimana diketahui, kerbau dan babi adalah hewan ternak yang paling penting bagi masyarakat Toraja. Dua hewan ini adalah yang wajib dipenuhi pada setiap upacara adat di Toraja. Selanjutnya, Pasar Umum Kelas IImeliputi pasar-pasar sebagai berikut: Pasar Pagi (Rantepao), Pasar Ge’tengan (Mengkendek), Pasar Salubarani (Mengkendek), Pasar Sangalla, Rembon, Bittuang, dan To’karau (Sessean). Kelompok terakhir adalah Pasar Umum Kelas IIIyang merupakan pasar-pasar lebih kecil, yaitu: Pasar Pindan (Rinding Allo), Buntu (Mengkendek), Sapan (Rinding Allo), Ulusalu, Rantetayo, Pondo’ (Nanggala), Buntao’/ Ledo, Ponding Ao’ (Bittuang). 

Sementara itu, sistem pasar Toraja di masa kini melibatkan 6 pasar dan masih menggunakan sistem bergilir 6 hari sekali, mengikuti jadwal harian pasar. Adapun keenam pasar yang masuk dalam sistem hari pasar ini tidak ditentukan berdasarkan kelas pasar sebagaimana diuraikan di paragraf sebelumnya. Berdasar pengamatan yang dilakukan di tahun 2005, hari pasar di Toraja berturut-turut adalah Makale─Rembon─Rantepao─Ge’tengan─Rantetayo─Sangalla, lalu urutan akan mulai kembali ke Makale. Misal, apabila di minggu ini Pasar Bolu buka di hari Rabu, maka minggu depan pasar akan buka di hari Selasa. Konon sistem pembagian hari pasar ini dicantumkan di kalender yang dicetak dan didistribusikan di Kabupaten Tana Toraja. 

Adapun komoditas utama pada pasar-pasar tradisional Toraja adalah ternak kerbau dan babi, hasil bumi atau bahan pangan (seperti kopi, cokelat, sayur, dan buah-buahan), serta komoditas lainnya yang menunjang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat Toraja. Komoditas-komoditas tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan komoditas yang diperdagangkan sejak awal abad ke-20. 

Pasar Bolu

Terletak di pusat wisata Toraja, Kota Rantepao, Pasar Bolu sudah terkenal sebagai objek wisata yang menarik dan unik untuk dikunjungi. Pasar ternak, demikian pasar ini juga dikenal, merupakan pusat penjualan kerbau dan buka sekali dalam 6 hari (sesuai jadwal hari pasar). Selain kerbau, babi juga dijual di pasar ini, hanya saja jumlahnya lebih sedikit. Sayur, buah-buahan, kopi, dan komoditi hasil bumi lainnya juga dapat ditemukan di pasar ini.

Pada saat hari pasar, jumlah kerbau yang diperjualbelikan dapat mencapai 500 ekor, apalagi saat akan diadakannya upacara-upacara adat. Selain banyaknya kerbau yang diperjualbelikan, pasar ini pun akan dipenuhi pengunjung, baik masyarakat lokal maupun wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin menyaksikan secara dekat kehidupan sebuah pasar ternak besar yang hanya ada di Toraja. Adapun harga kerbau yang diperjualbelikan mulai dari 5 juta rupiah hingga ratusan juta rupiah. Warna dan ukuran tubuh kerbau adalah tolak ukur penentuan harga. Kerbau kecil berwarna hitam akan dihargai sekira 5 juta, kerbau hitam dengan ukuran agak besar berkisar 10─15 juta. Sementara itu, kerbau berwarna belang (Tedong Bonga), yang merupakan salah satu komoditas unggul, dapat dihargai puluhan juta rupiah. Sedangkan kerbau albino yang terbilang langka dapat dihargai lebih mahal lagi hingga mencapai ratusan juta rupiah. 

Pasar Makale

Jika di Pasar Bolu komoditi utamanya adalah kerbau, maka di Pasar Makale komoditi utamanya adalah babi. Pasar ini pun kerap disebut sebagai Pasar Babi. Pasar ini bertempat di blok sekira 50 × 20 meter, yang dibagi dalam tiga bagian: bagian untuk anak babi, babi dewasa, dan daging babi. Jika Anda mengenal istilah kucing dalam karung, maka di Toraja Anda akan melihat babi dalam karung. Babi yang dimasukkan di dalam karung  beras adalah anak-anak babi yang biasanya dibeli untuk dipelihara. Saat ada pembeli yang berminat, maka karung tersebut akan dibuka sedikit untuk diperlihatkan kepada calon pembeli. Sementara untuk babi dewasa, biasanya diikat pada bilah bambu dan diletakkan di tanah atau balai bambu.  

Adapun kisaran harga babi, yaitu: 500─750 ribu untuk seekor anak babi. Sedangkan babi dewasa dapat mencapai kisaran 3─9 juta. Akan tetapi, kabarnya pernah pula ada babi yang dihargai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebab bobot tubuhnya menyaingi bobot tubuh seekor kerbau. Berbeda dengan kerbau, babi hitam justru berharga lebih mahal dibandingkan dengan babi albino atau belang. Pasar babi ini pun hanya ada sekali dalam enam hari. Jika hari biasa, tidak ada babi yang diperjualbelikan. 

Kerbau dan babi adalah simbol status bagi masyarakat Toraja dan merupakan hewan penting bagi kebudayaan masyarakat yang masih menganut ajaran animisme ini. Kerbau adalah syarat yang harus dipenuhi dalam sebuah upacara adat, terutama pemakaman; dipercaya bahwa kerbau yang disembelih akan menjadi kendaraan bagi roh jenazah yang hendak dikuburkan agar cepat sampai ke nirwana. Semakin banyak kerbau yang disembelih pada suatu upacara adat, semakin tinggi pula kedudukan keluarga penyelenggara upacara. Bagi golongan bangsawan, dibutuhkan kerbau sebanyak 24─100 kerbau. Sedangkan bagi golonganmenengah, 8 ekor kerbau dan 50 babi adalah syarat wajib yang harus dipenuhi dalam melaksanakan upacara pemakaman adat (Rambu Solo).

Oleh karena itu, keberadaan pasar ini tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan dan peradaban masyarakat Toraja. Sistem hari pasar pun merupakan sistem warisan leluhur masyarakat Toraja sejak ratusan tahun lalu.