image

 

 

“Singoh beungoh tanjoe ta djeb kupi di Meulaboh atawa ion akan sjahid”

Itulah petik ucap pahlawan nasional kita dari Tanah Rencong, Teuku Umar, yang menggambarkan jelas bahwa minum kopi di Aceh adalah nadi kuat budaya mereka! Siapapun yang sambangi Aceh perlu merasakan nikmat dan harumnya secangkir kopi aceh. Kopi Aceh sangat spesial rasanya karena Anda tidak akan menemukan kopi senikmat kopi aceh di daerah manapun di Indonesia dan bagaimana jumlah kedai kopi di sana begitu banyak bertebaran tanpa harus takut kehilangan pelanggannya.

Hal menarik dari kedai kopi di Aceh adalah itu telah menjadi ruang diskursus publik yang dinamis. Warga lintas generasi akan datang bergantian selepas subuh hingga Isya mengisi kursi-kursi sederhana yang nyaman meski tanpa AC. Di kedai kopi tersebut orang Aceh berbincang berbagai persoalan mulai dari keluarga hingga politik. Sulit menahan mereka untuk berbincang di kedai kopi hanya sejam saja.

Minum kopi merupakan tradisi dan kebiasaan sehari-hari yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Oleh karena itu, di Aceh banyak terdapat kedai kopi. Teknik membuat secangkir kopi di kedai kopi di Aceh tidak ada duanya. Para barista di sini tidak pernah pergi ke pelatihan khusus untuk belajar cara menyajikan secangkir kopi. Cara penyajian kopi di Aceh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Di sini, kopi diseduh melalui beberapa penyaringan sampai pada kekentalan yang diinginkan sehingga membuat kopi lebih harum, nikmat dan memiliki efek rasa yang kuat.

Saat ini di Aceh banyak warung kopi tersebar di Banda Aceh dan di kota lainnya, seperti Lhokseumawe dan Takengon. Bahkan banyak yang menyebut Aceh sebagai Negeri Seribu Warung Kopi. Kebiasaan minum kopi di Banda Aceh dan sekitarnya sudah mengakar di kalangan masyarakat sejak masa Kesultanan Aceh dengan fakta bahwa mereka memiliki hubungan spesial dengan Kesultanan Turki Otoman, tempat dimana budaya ngopi berkembang masa lalu.

Warung kopi tradisional di Aceh membuat minuman kopi yang direbus lalu menggunakan saringan saat hendak disajikan. Fasilitasnya tak lebih dari meja dan kursi. Warung kopi tradisional digolongkan sebagai generasi pertama. Generasi kedua adalah warung kopi yang dikembangkan dengan waralaba. Generasi ketiga adalah warung kopi yang memberi fasilitas tak hanya minuman dan makanan, tetapi juga musik, televisi satelit, dan akses internet.

Berikut ini beberapa tempat untuk Anda mencicipi kenikmatan kopi Tanah Rencong yang telah banyak dikunjungi warga Banda Aceh atau dari kota lain di Indonesia, bahkan juga dari luar negeri.

  • Dhapu Kupi di Simpang Surabaya, Banda Aceh tidak jauh dari Mesjid Baiturrahman dan Bandara Iskandar Muda. Pemandangan kota Banda Aceh yang semakin rapih dan cantik dari lantai atasnya sungguh spektakuler.
  • Warkop Solong di Ulee Kareng, Lampenurut, dan di beberapa tempat lainnya di Banda Aceh karena cabagnnya yang semakin menyebar. Warung Kopi ini memiliki konsumen yang menyukai kopi yang sedikit lebih kuat aromanya dari kopi biasa.
  • Ring Road Coffee di stasiun bus Banda Aceh yang paling meriah dari semua yang ada karena di sini para pemuda sering duduk minum kopi sambil melihat pertandingan sepak bola.
  • Tower Kopi di depan Taman Sari Banda Aceh dan hanya 100 meter dari Mesjid Baiturrahman adalah tempat berkumpulnya masyarakat kota untuk duduk di luar ruang dan menghadap meja dengan kehangatan kopi kuat Aceh yang harum.
  • Coffee Bay yang terletak di Ule Lheue kea rah pelabuhan sangat populer bagi para pelancong yang menginginkan rasa kopi Aceh sebelum menyebrang ke Pulau Weh.