Canon akhirnya menghadirkan kamera mirrorless bersensor full frame untuk para fotografer profesional. Saya berkesempatan memberikan padangan guna pakai untuk kamera yang saya sebut tepatnya sebagai ‘kamera untuk semua kalangan fotografer’. Sebagai kamera mirrorless, jelasnya EOS R menarik bagi generasi muda yang suka teknologi canggih. Kekuatan utama EOS R adalah di keseimbangan antara hasil foto yang baik dengan sensor 30 MP, kinerja yang masih termasuk cepat (bisa 8 fps) dan auto fokus yang paling handal dengan Dual Pixel AF.

Dengan sensor full frame, EOS R bisa jadi alat kerja bagi profesional. Body weathersealed, membuat penyuka foto outdoor bisa tenang memotret dengan kamera ini. Kamera ini juga dilengkapi video 4K sehingga bisa menjadikan EOS R sebagai kamera video yang bisa diandalkan. Canon EOS R dapat merekam video dalam Ultra High Definition 4K pada 30p/25p (3840 x 2460), yang dapat diaplikasikan di dunia broadcast maupun sinema. Kamera ini juga didukung Canon Log, yang telah terbukti hasilnya pada Cinema EOS System. Fitur ini sangat membantu untuk pengaturan kontras, detil, dan warna selama proses pascaproduksi. Selain itu, perekaman 4K bisa mencapai 10-bit melalui terminal HDMI untuk menghasilkan gradasi dan rentang warna yang akurat. Selain itu, adanya fitur Focus Guide memberikan kenyamanan pengguna untuk mendapatkan fokus yang akurat ketika menggunakan mode Manual Focus. Kamera ini akan memberikan penanda area yang menjadi titik fokus.

Kamera mirrorless full-frame 35 mm pertama dari Canon ini dibekali dengan sensor CMOS 30,3 megapiksel dan prosesor gambar DIGIC 8, dengan kecepatan fokus 0,05 detik. Kamera ini memiliki rentang ISO yang lebar, ISO 100-400.000, sehingga memudahkan pengambilan gambar di berbagai kondisi pencahayaan, termasuk kondisi minim cahaya tanpa perlu khawatir dengan gangguan noise. Canon memperluas sistem EOS melalui mount 54 mm dengan mengadirkan empat seri lensa RF (RF 50mm f/1.2L USM, RF 24-105mm f/4L IS USM, RF 28-70mm f/2L USM, RF 35mm f/1.8 IS STM), yang didukung dengan tiga jenis adaptor untuk memberikan fleksibilitas dalam menggunakan lensa EF.

Canon EOS R mengusung sensor CMOS Full-Frame 35mm 30,3 megapiksel dan prosesor gambar DIGIC 8 yang menghasilkan gambar beresolusi tinggi, dengan kualitas yang tajam dan detail untuk kebutuhan foto berukuran besar. Bahkan untuk gambar yang telah melalui proses cropping, detail dan ketajamannya masih dapat dipertahankan. Canon EOS R termasuk responsif dan semua proses masih termasuk cepat, seperti AF, shutter lag, proses menulis file ke memori dan melihat foto yang sudah diambil. Hanya saja strart up kamera ini tidak secepat DSLR. Kinerja shoot kontinudari kamera ini memang bukan untuk pewarta foto yang mengedepankan kecepatan, khususnya bila memakai AF Servo.

Dari sisi fitur dasar, nyaris tidak ada perbedaan antara EOS R dengan DSLR EOS lain, seperti ada berbagai Picture style, Auto Lighting Optimizer, HDR, Bracketing, ISO Auto yang bisa dikustomisasi, MF peaking, hingga pengolah RAW di kamera. Untuk mengganti mode kamera, kita perlu menekan tombol MODE lalu memilih dari sekian banyak pilihan seperti Auto, P, Av, Tv, Manual, Bulb dan Custom 123. Dengan menekan MODE dilanjutkan menekan INFO akan membuka mode khusus Video termasuk video dengan pengaturan manual yang lengkap. Canon EOS R memiliki jendela bidik/viewfinder elektronik (EVF) OLED beresolusi tinggi, 3,69 juta titik. Hadirnya EVF dengan cakupan 100% ini mampu menghadirkan gambar yang mendekati warna aslinya dengan kejernihan tinggi sehingga memberikan pengalaman tersendiri bagi pengguna saat mengatur komposisi. Ada yang baru di mode kamera EOS R, yaitu ada mode Fv, singkatan dari Flexible value. Mode ini belum pernah ada di kamera Canon lain, dengan memakai mode Fv kita bisa secara independen mengatur Shutter, Aperture, ISO dan Kompensasi Eksposur, tapi kalau keadaan pencahayaan berubah dan kita tidak sempat atur setting, kita bisa minta kamera carikan setting otomatis.

Canon EOS R dibekali teknologi Digital Lens Optimizer untuk menyempurnakan hasil bidikan dengan koreksi diffraction, aberration, dan peripheral illumination. Dengan kombinasi berbagai koreksi penyempurnaan tersebut, fotografer dapat menghasilkan foto berformat JPEG berkualitas tinggi langsung dari kamera, tanpa harus menggunakan bantuan perangkat komputer. Canon juga menyematkan teknologi Dual Pixel RAW (DPRAW) yang membuat pengolahan foto berformat RAW lebih detail dan presisi saat menggunakan program pendukung Digital Photo Professional. Dengan teknologi canggih ini fotografer dapat menyesuaikan tingkat ketajaman dan resolusi subjek, mengatur posisi efek bokeh yang diinginkan, hingga mengurangi efek ghosting dan flare pada hasil foto yang telah diambil. Terdapat format baru C-RAW, yang merupakan format RAW opsional dengan ukuran data lebih kecil, sehingga pemotretan saat mode continuous shooting dapat lebih cepat dan banyak.

Teknologi mutakhir lensa RF yang terhubung ke kamera EOS R melalui 12 pin pada mount menghasilkan kecepatan komunikasi data yang luar biasa antara kamera dan lensa, dan secara otomatis mengoptimalkan Image Stabilization baik saat memotret atau merekam video. Dual Sensing IS yang ada pada kamera Canon EOS R dapat mendeteksi guncangan dengan akurasi tinggi, sehingga mampu menjaga gambar tetap stabil. Kamera mendeteksi guncangan secara akurat lewat informasi dari sensor gyro dan sensor gambar untuk merealisasikan efek stabilisasi gambar yang setara dengan 5 stop kecepatan rana, efektif untuk pemotretan dengan kecepatan rana rendah pada kondisi cahaya minim namun hasil gambar tetap tajam. Pada lensa juga ada ring tambahan yang bisa diatur untuk fungsi tertentu, jadi misal ingin difungsikan untuk ISO maka dengan memutar ring di lensa kita bisa langsung mengubah ISO.

Canon EOS R menjadi pembuka sejarah babak baru masuknya Canon di segmen mirrorless full frame, sehingga terdapat alternatif pilihan bagi fotografer selain pilihan DSLR yang lebih dulu ada. Hal yang akan menjadi tantangan lain bagi Canon (dan pengguna EOS R) adalah soal lensanya. Canon perlu membuat banyak lensa baru (RF lens), yang faktanya lensa RF tidak saling kompatibel dengan lensa EF-M (mirrorless APS-C). Sebagai pendatang baru, urusan ekosistem lensa yang native (RF lens) masih sangat terbatas maka itu penggunaan adapter (sementara waktu) akan menjadi solusi bila ingin mencoba berbagai lensa Canon EF/EF-S.