Keberadaan jagung yang begitu melimpah di wilayah Sulawesi bagian utara memengaruhi citarasa ragam kulinernya. Banyak yang sudah tidak asing dengan nama bubur manado. Sama seperti bubur lain yang memiliki rasa pedas dan asin, bedanya, Anda akan menemukan bahan olah unik di dalamnya termasuk jagung. Selain itu, aroma daun kunyit dan kemangi sangat kuat pada semangkuk bubur manado tersebut.

Bubur manado atau yang juga dikenal dengan “tinutuan” diracik dari beras dengan aneka sayuran di dalamnya, seperti jagung, labu kuning, ubi merah, kacang panjang, kangkung, kemangi dan daun gedi. Daun gedi masih satu keluarga dengan kembang sepatu, kapas dan okra dengan ciri khas kandungan lendir yang banyak. 

Selain itu, terkadang, ikan asin atau ikan tongkol dan tahu ditambahkan untuk melengkapi kenikmatan bubur manado. Gizinya sangat kaya sehingga bubur ini cukup untuk memenuhi nutrisi segala usia karena di dalamnya kaya vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin C, zat besi, kalium, serat, betakaroten, kaya antioksidan, magnesium, mangan, rendah koleksterol, protein, fosfor, kalsium, dan lainnnya sesuai bahan pelengkap seperti lauk pauk seperti ikan asin goreng, tahu goreng, perkedel, bawang goreng dan sambal.

Di beberapa warung makan, bubur manado disajikan bersama mie. Bubur manado jenis ini disebut midal dan biasanya dibuat di wilayah Minahasa Selatan. Ada juga yang menghidangkan bubur manado bersama sup kacang merah yang disebut bernebon dan kaki babi. Biasanya bubur manado jenis ini disajikan khusus untuk memperingati hari pengucapan syukur di Manado.

Bubur manado tidak dibuat dengan bumbu yang rumit dan sulit didapat, cukup garam dan merica saja. Cara membuatnya, beras, jagung, ubi dan labu yang telah dipotong dimasukkan bersama ke dalam panci yang berisi 4 gelas air. Masak hingga menjadi bubur. Setelah itu secara terpisah, bawang putih ditumis di atas wajan hingga harum, tambahkan sedikit air lalu tambahkan bubur yang telah dimasak. Aduk rata, terakhir tambahkan garam, merica dan penyedap rasa. Masak sampai mendidih.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana asalnya bubur manado mulai merambah di Sulawesi Utara, yang jelas tinutuan mulai banyak diperdagangkan di Kota Manado sejak tahun 1970. Ada yang menyebutkan bahwa bubur manado sudah ada sejak zaman kolonial. Ketika itu masyarakat mengalami kesulitan pangan sehingga bahan makanan apapun yang terdapat di pekarangan diracik begitu saja. Ubi, singkong, jagung, kangkung dan daun gedi yang berada di pekarangan  pun dicampurkan bersama beras, tentunya dengan tambahan kreatifitas sehingga terciptalah makanan yang lezat dan penuh gizi.

Keberadan bubur manado kini mengidentitaskan masyarakat Manado, bahkan kuliner ini dijadikan moto Kota Manado. Tentu, apabila berkunjung ke Manado, Anda dapat memburunya di beberapa sudut kota seperti di sepanjang Kawasan Wakeke, Kecamatan Wenang, Kota Manado. Di beberapa warung makan di Kota Gorontalo, bubur manado pun dihidangkan.